Halaman

Senin, 18 Februari 2013

Dilema Hati Sang Pujangga Part I


Malam hening bersenandung dengan indahnya, suara deru kendaraan menjadi nyanyian malam yang mengalin penuh elegy perkotaan. Bulan masih bersembunyi dibalik mendung hitam, bintang pun hanya mengintip dengan malunya.
       Dibalik jendela kamar, aku memandang keluar, sunyi dan gemerlap, ada beberapa lampu yang menyala dijauh sana, lampu itu perlahan berpendar, dan aku pejamkan mata tuk sekedar memutar beberapa kenanganku bersama dua orang yang pernah mengisi hatiku. Haki dan Evan.
       Haki, dia lelaki yang baik dan sangat sabar, tapi dengan kesabarannya yang aku rasa terlalu padaku, aku menjai tidak nyaman. Dia selalu menuruti segala keinginanku, meskipun aku senang karena  kainginanku dituruti, tapi aku butuh seseorang yang mampu untuk menuntunku dan membimbingku. Bukan seseorang yang hanya mampu menuruti kemauanku karena dia menyayangiku.
       Aku rasa, bila dia menyayangiku dia akan membimbingku dan mengarahkan aku bila aku salah. Bukan selalu menuruti keinginanku. Aku bosan dengannya. Kehidupanku monotone, tanpa warna..
       Aku menghela napas dan membuka mata.
       “ Maafkan aku Haki .” Setetes airmata jatuh dipipiku, meratapi keputusanku untuk mengakhiri hubunganku dengan Haki waktu itu.
       Evan, aku baru mengenalnya tapi dia mengatakan cinta padaku, dan aku pun menerimanya satu minggu setelah aku mengakhiri hubunganku dengan Haki.
       Aku sangat bodoh, aku telah ternag-terangan menyakiti Haki, tapi aku tidak peduli, karena aku telah bosan dengannya. Dan bersama Evan, aku berhasil menemukan kebahagiaan baru yang penuh warna, dia tak segan memarahiku kalau aku salah. Namun, itu tidak berlangsung lama, hanya 28 hari dan parahnya dia mengakhiri hubunganku satu hari setelah dia mnegajakku kencan. Menyakitkan…
       Aku menghela napas kembali…
       “ Mungkin ini karma buatku .” Setetes air mata menetes lagi dipipiku..
       Kalian tau, semenjak itu aku takut untuk menjalin hubungan dengan cowok manapun, aku lebih senang berteman biasa dengan mereaka.
       AKU TAKUT..
       AKU TRAUMA..
*BERSAMBUNG*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar