Malam hening bersenandung dengan indahnya, suara deru kendaraan
menjadi nyanyian malam yang mengalin penuh elegy perkotaan. Bulan masih
bersembunyi dibalik mendung hitam, bintang pun hanya mengintip dengan malunya.
Dibalik jendela kamar, aku
memandang keluar, sunyi dan gemerlap, ada beberapa lampu yang menyala dijauh
sana, lampu itu perlahan berpendar, dan aku pejamkan mata tuk sekedar memutar
beberapa kenanganku bersama dua orang yang pernah mengisi hatiku. Haki dan
Evan.
Haki, dia lelaki yang baik
dan sangat sabar, tapi dengan kesabarannya yang aku rasa terlalu padaku, aku
menjai tidak nyaman. Dia selalu menuruti segala keinginanku, meskipun aku
senang karena kainginanku dituruti, tapi
aku butuh seseorang yang mampu untuk menuntunku dan membimbingku. Bukan seseorang
yang hanya mampu menuruti kemauanku karena dia menyayangiku.
Aku rasa, bila dia
menyayangiku dia akan membimbingku dan mengarahkan aku bila aku salah. Bukan selalu
menuruti keinginanku. Aku bosan dengannya. Kehidupanku monotone, tanpa warna..
Aku menghela napas dan
membuka mata.
“ Maafkan aku Haki .”
Setetes airmata jatuh dipipiku, meratapi keputusanku untuk mengakhiri
hubunganku dengan Haki waktu itu.
Evan, aku baru mengenalnya
tapi dia mengatakan cinta padaku, dan aku pun menerimanya satu minggu setelah
aku mengakhiri hubunganku dengan Haki.
Aku sangat bodoh, aku
telah ternag-terangan menyakiti Haki, tapi aku tidak peduli, karena aku telah
bosan dengannya. Dan bersama Evan, aku berhasil menemukan kebahagiaan baru yang
penuh warna, dia tak segan memarahiku kalau aku salah. Namun, itu tidak
berlangsung lama, hanya 28 hari dan parahnya dia mengakhiri hubunganku satu
hari setelah dia mnegajakku kencan. Menyakitkan…
Aku menghela napas kembali…
“ Mungkin ini karma buatku
.” Setetes air mata menetes lagi dipipiku..
Kalian tau, semenjak itu
aku takut untuk menjalin hubungan dengan cowok manapun, aku lebih senang
berteman biasa dengan mereaka.
AKU TAKUT..
AKU TRAUMA..
*BERSAMBUNG*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar